Khutbah Idul Fitri



Istiqomah Dalam Ikhlas Mengharap Ridha Allah Swt
Khutbah Idul Fitri Masjid Al-Ikhsan Komplek Astek
Inan Tihul Idries, M.Pd.I
(Anggota Ikatan Da’i Indonesia (IKADI), Sekretaris LPPD Khairu Ummah Tangerang Selatan)

الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر    الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر    الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا . لا اله الاالله  وحده وصدق وعده ونصر عبده واعزجنده وهزم الأحزاب وحده . لااله الاالله ولا نعبد الا اياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون . الله اكبر ولله الحمد .
الحمد لله الذي لا اله الا هو عالم الغيب والشهادة . هو الرحمن الرحيم . هو الله الذي لا اله الا هو الملك القدوس السلام المؤمن المهيمن العزيز الجبار المتكبر . سبحان الله عما يشركون . اشهد ان لااله الاالله وحده لاشريك له . واشهد ان محمدا عبده ورسوله . اللهم  صل وسلم على محمد وعلى أله واصحابه أجمعين . ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين . أما بعد :

الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر ولله الحمد
Jama’ah shalat ‘Idul Fithri rahimakumullah,
Mari kita senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita semua. Bersyukur karena Allah Swt masih mengizinkan kita hidup. Berapa banyak saudara-saudari kita, kawan, handaitaulan, dan tetangga kita yang tahun lalu bersama-sama kita melakukan ibadah puasa, shalat tarawih bersama kita, dan merayakan hari ‘Idul Fithri bersama kita, namun pada hari ini mereka tidak hadir di tengah-tengah kita karena Allah Swt telah ‘memanggil’ mereka.
Hari ini seluruh kaum muslimin merayakan ‘kemenangannya’. Setelah sebulan penuh menjalankan syari’at shaum ramadhan yang penuh dengan keberkahan. Dan kita akan mendapatkan bagian dari kemenangan tersebut sesuai dengan kadar iman  yang kita miliki dan kualitas ibadah yang telah kita lakukan.
Al-hamdulillah, kita telah mengisi hari-hari kita di bulan suci ramadhan dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt melalui ibadah-ibadah yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw yakni dengan memperbanyak dzikir kepada Allah Swt melalui tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Mengisi ramadhan dengan qiyamullail (tarawih), tilawah al-Qur’an, infak- shadaqah dengan berbagi ta’jil kepada para shoimin yang lain dan kita tutup ramadhan dengan mengeluarkan kewajiban yang telah Allah tetntukan kepada kita yaitu zakat fithrah, lalu kita teriakan secara serempak senandung ‘kemenangan’.

الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر ولله الحمد
Jama’ah shalat ‘Idul Fithri rahimakumullah,
Hari ini disebut ‘hari kemenangan’, karena kepulangan kita dari tempat ini menuju rumah kita masing-masing akan membawa pahala yang Allah bagikan untuk kita. Di dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. disebutkan sebagai berikut, “Apabila datang hari raya, maka turunlah Malaikat ke bumi di tiap-tiap negara, mereka berhenti di setiap ujung jalan seraya berseru dengan suara yang dapat didengar  oleh seluruh makhluk Allah kecuali jin dan manusia; ‘wahai umat Muhammad, keluarlah kalian untuk menghadap Tuhan Yang Maha Pemurah yang memberi kenikmatan dan mengampuni segala dosa-dosa besar’. Pada waktu itu apabila mereka keluar menuju tempat shalat hari raya, maka Allah berfirman, ‘Wahai Malaikat-Ku, apakah balasan seorang pekerja bila ia telah menyelesaikan pekerjaannya?’. Para Malaikat menjawab, ‘Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah pahalanya’. Lalu Allah berfirman, ‘Sekarang Aku saksikan kepada kalian seungguhnya Aku jadikan keridhaan dan pengampunan-Ku. Demi keagungan-Ku dan keluhuran-Ku pada hari ini, kalian tidak meminta kepada-Ku perkara apa saja yang berguna untuk akhirat kalian kecuali pasti Aku kabulkan. Sekarang bubarlah dengan membawa ampunan karena kalian ridha mengikuti perintah-Ku dan Aku ridha kepada kalian.”

الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر ولله الحمد

Jama’ah shalat ‘Idul Fithri rahimakumullah,
Kini ramadhan terlah berlalu. Dan kita akan berhadapan dengan sebelas bulan ke depan. Maka hendaklah nilai-nilai ibadah kita yang ada pada bulan ramadhan mampu mewarnai krakteristik dan prilaku kita pada bulan-bulan berikutnya.
Apa nilai-nilai ramadhan yang dapat mewarnai segala karakteristik dan prilaku kita pada 11 bulan yang akan datang sehingga kita benar-benar dalam bingkai orang-orang yang bertakwa kepada Allah Swt ?.

1)   Istiqomah dalam amal shalih
Jama’ah shalat ‘Idul Fithri rahimakumullah,
Puasa ramadhan telah kita lewati. Hari kemenangan akan kita rayakan sebagai hari yang fithri, laksana bayi yang masih suci, lembaran hitampun berganti menjadi putih.
Al-hamdulillah, ramadhan telah terlewati. Banyak sudah amalan dan perbuatan baik yang telah kita lakukan menhiasi bulan nan suci. Segenap jiwa dan tenaga kita curahkan untuk beribadah kepada Allah Swt siang dan malam. Lantunan al-Qur’an, shalat-shalat sunnah kita lakukan. Tarawih berjama’ah, bermunajat kepada Allah serta serangkaian kemaksiatan telah kita tinggalkan. Bersedekah, menyantuni fakir-miskin dan anak-anak yatim, merayakan nuzul al-Qur’an, ber’itikaf di sepuluh malam terakhir, menanti lailatul qodar, serta bertumpuk perbuatan baik yang mendatangkan pahala telah kita lakukan. Dan kita tutup dengan mengumandangkan takbir.
الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر ولله الحمد
Dan kita lanjutkan dengan salaing mengucapkan:
تقبل الله منا ومنكم صيامنا وصيامكم

الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر ولله الحمد
Jama’ah shalat ‘Idul Fithri rahimakumullah,
Kini ramadhan telah berlalu, sedih hati kita meninggalkan bulan yang awalnya rahmat, di tengahnya maghfirah, dan di akhirnya pembebasan dari api neraka. Tentu kita berharap agar ibadah kita diterima oleh Allah Swt. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.
Yang menjadi pertanyaan bagi kita semua saat ini adalah; sanggupkah, ibadah yang kita lakukan selama ramadhan atau substansi (isi) yang ada pada bulan ramadhan mampu menghantarkan kita menghadapi segala tantangan dan rintangan pada sebelas bulan ke depan?.
Khotib berintrosfeksi, hingga khotib teringat firman Allah Swt dalam surat Al-Ahqof (46) ayat 13-14:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ . أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”

2)   Iikhlas mengharap ridha Allah Swt
Pada kitab Majalisus Saniyyah yang berisi syarah hadits al-Arba’in an-Nawawiyyah, Syeikh Ahmad bin Syeikh al-Fasyani mengisahkan pada sebuah kisah dari Nabi al-Mukhtar Muhammad Saw. Beliau bersabda:
“Pada malam aku diisrakan ke langit, diperlihatkan kepadaku semua surga. Aku melihat di dalam surga ada empat sungai.
1)   نهر من ماء غير اسن             (sungai dari air yang tidak keruh (jernih))
2)   نهر من لبن لم يتغير طعمه   (sungai dari susu yang tidak berubah rasanya)
3)   نهر من خمر لذة للشاربين    (sungai dari arak yang sangat lezat rasanya)
4)   نهر من عسل مصفى            (sungai dari madu yang jernih)
Maka aku berkata (Rasullah Saw) kepada malaikat jibril, dari mana datangnya (hulu) sungai-sungai ini dan kemana mengalirnya? ...Malaikat Jibril menjawab, semua mengalir ke Telaga al-Kautsar dan aku tidak tahu dari mana datangnya, maka berdo’alah kepada Allah, agar Ia memperlihatkannya kepadamu.
Maka berdo’a Nabi Saw, maka datanglah satu malaikat mengucapkan salam kepadanya. Kemudian berkata, wahai Muhammad pejamkan matamu, maka aku pejamkan mataku (kata Nabi Saw). Ia berkata lagi, buka matamu, dan aku membuka mataku. Tiba-tiba aku berada di sisi sebuah pohon yang besar, dan aku melihat sebuah kubah yang tebuat dari mutiara yang putih. Kubah itu memiliki sebuah pintu yang terbuat dari emas. Kalau seandainya seluruh manusia dan jin yang ada di dunia ini berdiri di atas kubbah tersebut, maka mereka hanya seperti seekor burung yang bertengger di atas gunung, atau seperti bola yang dilemparkan ke lautan. Aku melihat ke empat sungai tadi mengalir dari bawah kubah itu.
Ketika aku hendak berbalik, malaikat yang membawaku tadi berkata, mengapa Tuan tidak masuk ke dalam kubah itu?, aku menjawab, bagaimana saya bisa masuk ke dalam nya sedangkan di pintu itu ada gembok yang terbuat dari emas, dan saya tidak tahu cara membukanya. Malaikat itu berkata, kuncinya ada di tangan Tuan. Aku bertanya, mana kuncinya?. Malaikat itu menjawab, kuncinya adalah bismillahirrahmanirrahim.
Setelah aku mendekati gembok itu, aku ucapkan Bismillahirrahmaanirrahim. Maka terbukalah gembok itu lalu aku pun masuk ke kubah tersebut. Aku melihat keempat anak sungai tersebut mengalir dari bawah empat tiang kubah. Ketika aku hendak kembali, malaikat itu berkata, apakah sudah Tuan lihat, Ya Muhammad?... aku jawab, sudah saya lihat. Malaikat itu berkata, cobalah lihat sekali lagi. Ketika aku lihat kembali, ternyata pada keempat tiang itu tertulis kalimat Bismillahirrahmaanirrahiim. Aku melihat sungai air jernuh mengalir dari huruf mim lafazh bismi, sungai susu mengalir dari lafazh Allah, sungai arak keluar dari mim lafazh arrahmaan, dan sungai madu mengalir  dari mim lafzh arrahiim.
فعلمت ان اصل هذه الأنهار الأربعة من البسمله
Allah  Ta’ala berfirman:
يا محمد من ذكرنى بهذه الأسماء من أمتك  وقال بقلب خالص بسم الله الرحمن الرحيم سقيته من هذه الأنهار الأربعة

الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر ولله الحمد
Jama’ah shalat ‘Idul Fithri rahimakumullah,
            Berapa banyak amalan-amalan yang kita anggap sebagai amalan dunia, tetapi tatkala kita awali dengan mengucap Bismillahirrahmaanirrahim dengan hati yang ikhlas maka berbuah pahala di sisi Allah Swt. Sebaliknya berapa banyak amalan-amalan yang kita anggap sebagai amalan akhirat namun karena tidak disertai karena Allah dengan hati yang ikhlas maka tidak benilai si sisi Allah Swt.
رب صائم ليس له من صيامه الا الجوع والعطس
Berapa banyak orang-orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapat pahala dari puasanya melainkan rasa lapar dan dahaga.
Berapa banyak orang-orang yang menegakan shalat tetapi tidak mendapatkan pahala dari shalat malamnya melainkan rasa kantuk dan terjaga.

الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر ولله الحمد
Jama’ah shalat ‘Idul Fithri rahimakumullah,
3)   Menjaga silaturrahim dan senantiasa menebar kasih sayang
Dalam kitab al-Kabair yang disusun oleh Imam Adz-Dzahabi yang diterjemahkan ke dalam Baha Indonesia yakni dengan judul Dosa-dosa Besar. Diriwayatkan setelah Rasullah Saw meninggal Abdullah Ibnu Abbas menjadi guru yang teramat masyhur. Suatu ketika saat Beliau sedang mengadakan kajian besar di dalam Masjid tiba-tiba saja kajian itu terhenti dengan masuknya seorang lelaki di mana laki-laki tersebut langsung bergabung dalam kajian itu. Abdullah Ibnu Abbas sang guru diam, dan tidak mau melanjutkan pengajian. Orang-orang pada heran, kenapa dengan masuknya laki-laki ini sang guru besar Ibnu Abbas ra menghentikan pengajiannya dan tidak berbicara. Akhirnya kehingan itu dipecahkan dengan kata-kata beliau yang menghenyakkan kalbu.
Apa kata Beliau? , hadirin seluruhnya, minta maaf pengajian dengan berat hati tidak dapat kita lanjutkan selama ada orang yang karena keberadaannya Allah menahan rahmat dari langit sampai orang tersebut enyah dari tengah-tengah kita. Kata-kata ini sangat menohok, kata-kata ini sangat menggunjang, orang semua faham siapa yang dimaksud dengan kata-kata ini dari sang guru besar Abdullah Ibnu Abbas. Apalagi laki-laki yang bersangkutan, karena kedatangannyalah Abdullah Ibnu Abbas ra menghentikan ceramahnya. Tahu diri, akhirnya laki-laki ini berdiri dan mundur secara perlahan-lahan lalu keluar meninggalkan majelis itu.
Kaum muslimin yang kami muliakan. Tidak berapa langkah laki-laki tersebut meninggalkan lokasi, Abdullah Ibnu Abbas terdengar melanjutkan pengajiannya. Pahamlah laki-laki ini bahwa memang dia yang dimaksud.
Kemanakah laki-laki ini pergi?
Ia menuju ke rumah bibi kandungnya. Satu kota Madinah kenal bahwa laki-laki ini telah lama tidak bertegur sapa dengan sang bibi. Singkatnya dia sampai di rumah bibinya, dia ketuk pintu rumah bibinya. Dibukakan pintu, assalaamu’alaikum, wa’alaikumussalaam. Sang bibi terkejut, ternyata keponakannya yang sudah lama tidak menegurnya. Singkatnya si lelaki ini meminta maaf kepada bibinya, dan ia pun dipersilahkan masuk. Akhirnya sang bibi bertanya, tumben kamu datang, dan aneh kalau kamu minta maaf mau bertegur sapa, ada apa gerangan?
Lelaki itu menjawab, bi tadi saya mendapatkan pelajaran yang sangat mahal. Sang guru besar Abdullah Ibnu Abbas ra. menhentikan pembicaraannya, menyetop pengajiannya hanya karena saya bergabung dan ikut ke tengah-tengah mereka. Dan Beliau berkata seperti ini, selama di majelis ini ada orang yang karena keberadaannya Allah menahan rahmat dari langit. Bapak ibu kan tahu, majelis ilmu seperti ini, ini mendatangkan para malaikat-malaikat rahmat bergabung bersama kita dan memohonkan segala kebaikan untuk kita sampai majelis ini bubar. Malaikat-malaikat rahmat ini akan menyingkir kalau di tengah-tengah kelompok atau komunitas itu ada orang yang putus talisilaturrahim.
Kaum muslimin yang kami muliakan, mendengarkan itu sang bibi pun paham.  Singkatnya kaum muslimin, terjadilah kembali kehangatan suasana di mana si lelaki meminta kepada bibinya, bi mulai hari ini dan seterusnya saya tidak akan mengulangi kesalahan ini. Bibi pun bersyukur kepada Allah dan keponakannya ini disuruh, datanglah kamu kembali kepada guru kita Abdullah Ibnu Abbas, tanyakan kepadanya apa-apa sajakah yang telah disiapkan oleh Allah hukuman untuk orang yang memutuskan tali siaturrahim?...Labbaik yaa bibi, maka pergilah lelaki ini untuk bergabung ke pengajian Abdullah Ibnu Abbas. Ternyata pengajian sudah bubar, sang guru masih duduk di kelilingi  beberapa orang murid. Masuk lelaki ini, lagi-lagi Abdullah Ibnu Abbas diam.  Dan dia berkata, guru, saya sudah baikan dengan bibi saya. Barusan saya datang ke rumahnya dan kami sudah berma’af-ma’afan. Bibi saya menyuruh saya datang ke mari. Berubah rona wajah Ibnu Abbas dan berkata, bagus kalau begitu. Guru saya diperintahkan oleh bibi saya bertanya. Apa yang akan engkau tanyakan, yang mau saya tanyakan adalah, apakah hukuman  yang dijanjikan yang disiapkan oleh Allah untuk orang yang memutuskan tali silaturrahim?.
Maka Abdullah Ibnu Abbas ra. dalam kitab Al-Kabair ini menjawab, ada 3.
Yang pertama seperti yang engkau sudah tahu yaitu rahmat Allah tahan di manapun di komunitas manapun orang yang memutuskan talisilaturrahim itu berada, sampai orang itu menyingkir dari komunitas tersebut barulah rahmat kembali Allah turunkan.
Yang kedua, bila lewat dari tiga hari saja, maka amalan orang tersebut Allah gantung, Allah tahan di langit dunia sampai yang bersangkutan kembali berbaikan dan menyambung tali silaturrahimnya dengan orang yang telah dia putuskan atau telah putus talisilaturrahim dengan orang itu.
Dan ketiga, seperti yang diriwayatkan shahih Bukhari bahwa Rasulullah Saw bersabda Allah memutuskan sifat rahimnya dengan orang tersebut, Arrohimu, rahim itu dari nama-Ku, man wahola washoltu, siapa yang menyambungnya Aku sambungkan rahmat untuknya.
الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر ولله الحمد
Jama’ah shalat ‘Idul Fithri rahimakumullah,
Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Umur kita hidup di dunia ini paling lama 60-70 tahun. Setelah itu kita akan mendatangi alam kubur mau tidak mau kita pun akan mendatanginya. Maka hendaklah kita selalu bermawas diri dan waspada akan datangnya kematian yang datangnya secara tiba. Oleh karena itu di hari yang fitri ini al-faqir mengajak jama’ah sekalian untuk senantia beristiqomah dalam kebaikan, mari kita jaga selalu silaturrahim di antara kita, dan mari kita awali setiap perbuatan kita dengan ikhlas mengaharap ridha Allah Swt. Semoga Allah Swt mengampuni segala kesalahan dan kekhilafan kita semua.
جعل الله واياكم من العائدين الفائزين السائلين الغانمين المقبولين وادخلنا واياكم في زمرة عباده الصالحين . اعوذ بالله من الشيطان الرجيم  .  وامامن خاف مقام ربه ونهى النفس عن الهوى . وقل رب اغبر وارحم و انت خير الراحمين

 ==============================================================

KHUTHBAH KE-2

الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر       الله اكبر الله اكبر  الله اكبر     الله اكبر
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لااله الاالله  الله اكبر 
الله اكبر ولله الحمد .
الحمد لله الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملا . اشهد ان لااله الاالله وحده لاشريك له . واشهد ان محمد عبده ورسوله . اللهم  صل وسلم على أله واصحابه أجمعين . ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين . أما بعد :
فيا ايها المؤمنون  اتقوا الله رحمكم الله . ان يومكم هذا يوم عظيم . فقال تعالى فلم يزل قائلا عليما . ان الله وملائكته يصلون على النبي ......................................

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEUTAMAAN NIAT

AWALI SEMUA DENGAN BASMALAH

ISLAM, IMAN, DAN IHSAN