KEUTAMAAN NIAT



Keutamaan Niat # syarah hadits al-Arba’in an-Nawawiyyah# asy-Syekh Ahmad bin Syekh al-Fasyani
Kajian Shubuh Masjid Assa’adah Pondok Safari Pondok Aren, 19 Nopember 2017
Inan Tihul (081511894045)
بسم الله الرحمن الرحيم
عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر ابن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : انما الأعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أوامرأة ينكحها فهجرته الى ماهجر اليه
“Dari Amirul Mu’minin Abi Hafshin Umar Bin Khattab radhiyallohu ‘anhu berkata: ‘saya mendengar Rasulallah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda’: ‘sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niat. Dan sesungguhnya masing-masing orang akan memperoleh apa yang ia niatkan. Maka barang siapa (niat) hijrahnya  itu menuju kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan Rasul-Nya; barang siapa yang (niat) hijrahnya itu menuju kepada (keinginan) dunia yang hendak diperolehnya atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya hanya sebatas apa yang ia niatkan itu saja”.[1]
Sebagian ulama mengatakan bahwa poros agama Islam itu adalah pada hadits innamal ‘amaalu bin niyyaat, hadits al-halaalu bayyinun wal haraamu bayyinun, hadits man ‘amila ‘amalan laisa ‘alayhi amrunaa fahuwa raddun, dan hadits min husni islaamil mar’i tarkuhu maa laa ya’nihi, masing-masing hadits tersebut merupakan seperempat Islam.
Ulama lainnya mengatakan: “Seandainya saya menyusun seratus kitab, tentu setiap kitab itu akan saya mulai dengan hadits innamal ‘amaalu bin niyyaat. Ia merupakan hadits yang agung. Dahulu paara salaf yang shalih  suka membuka tulisan mereka dengan hadits ini untuk memperingatkan kepada para pelajar supaya memperhatikan niat yang baik. Karena niat itu merupakan amal hati yang amat besar. Sedangkan perbuatan taat pun tergantung kepadanya dan pada niatlah porosnya.” Dan Abu Ubaidah radhiyallohu ‘anhu berkata: “tidak ada akhbar Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam yang lebih sempurna, lebih mencukupi, lebih banyak faedah dan lebih menyampaikan daripaada hadits ini.
انما الأعمال بالنيات  Jumhur ulama mengatakan bahwa kata innamaa digunakan untuk membatasi terhadap apa yang disebutkan saja, dan meniadakan yang selainnya. Jadi maksud hadits ini adalah  bahwa amal itu akan diperhitungkan kalau disertai dengan niat dan tidak akan diperhitungkan kalau tidak disertai dengan niat. Dengan demikian maksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam itu adalah bahwa syariat yang berkaitan dengan badan, baik berupa perbuatan maupun ucapan yang keluar dari seorang yang mukmin, haruslah disertai dengan niat.
Niat secara bahasa artinya qashdun (bermaksud), sedangkan menurut syariat artinya: bermaksud mengerjakan  sesuatu yang disertai dengan mengerjakannya. Jika tidak langsung dikerjakan maka ia disebut ‘azam. Pembicaraan mengenai niat ini telah dikupas secara panjang lebar di dalam ilmu fikih.
Perlu diketahui bahwa kata innamaa yang berfungsi untuk membatasi tadi maksudnya tidak secara keseluruhan (kulli) tetapi kebanyakan saja (aktsari), sebab adakalanya ada amal yang tetap sah tanpa niat, seperti adzan dan membaca al-Qur’an. Begitu pula sah meninggalkan sesuatu perbuatan tanpa disertai niat seperti meninggalkan perbuatan zina. Dalam kaitan ini para ulama telah membahasnya secara panjang lebar.
وانما لكل امرئ ما نوى  Maksudnya adalah ganjarannya. Jika perbuatan tersebut dilandasi dengan niat yang baik maka baik pula ganjarannya dan jika buruk maka buruk pula ganjarannya. Dengan demikian niat seorang mukmin itu lebih baik dari amalnya. Niat yang ikhlas semata-mata karena Allah itu selalu disyariatkan secara umum kepada umat-umat sebelum kita. Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:
Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh.... QS 42: 13

 
Abu ‘Aliyah berkata: Allah telah mewasiatkan kepada mereka agar beribadat dengan ikhlas semata-mata karena Allah Subhaanahu wata’ala, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Seyogyanya bagi seseorang yang hendak melakukan suatu perbuatan taat agar dia menhadirkan niat lebih dahulu. Dia harus berniat dengan ikhlas semata-mata untuk Allah Subhaanahu wata’ala. Niat merupakan pokok amal seluruhnya, dan ia adalah asas, di atas asas itulah tiang-tiang bangunan dipancangkan. Barang siapa membukakan bagi dirinya satu pintu kebaikan, maka Allah akan membukakan baginya tujuh puluh pintu kepada taufik; dan barang siapa membukakan bagi dirinya satu pintu keburukan, maka Allah akan membukakan baginya tujuh puluh pintu kepada kehinaan. Pintu kebaikan itu berasal dari niat yang baik, dan pintu keburukan itu berasal dari niat yang buruk.
Apabila seorang hamba berniat untuk melakukan sesuatu kebaikan, ia akan diberi pahala sekalipun tidak sampai dikerjakannya. Sebagaimana disebutkan dalam Musnad Abi Ya’la, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
Pada hari kiamat, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman kepada malaikat hafazhah “Tuliskanlah buat hamba-Ku sekian-sekian pahala, mereka menjawab, oh... Tuhan kami, kami tidak mengingatnya dan juga tidak tertulis di lembaran ‘amalnya?, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, dia telah berniat untuk melakukannya.”
HIKAYAT:
Ada dua orang bersaudara, yang satu ‘abid yang lain fasik. Si abid tadi berangan-angan ingin melihat Iblis. Maka pada suatu hari, Iblis benar-benar menampakan diri kepadanya. Iblis berkata kepadanya: ‘Sungguh sayang, engkau telah membuang-buang waktumu selama 40 tahun dengan mengekang dirimu dan memayahkan badanmu. Umurmu masih tersisa sepeti yang sudah terbuang itu, maka pergunakanlah untuk bersenang-senang mengikuti keinginan nafsumu.’
Si abid lalu berkata dalam hatinya: ‘Saya akan turun menemui saudaraku di bawah rumah untuk menemaninya makan minum dan bersenang-senang  selama 20 tahun, kemudian saya akan bertaubat dan kembali beribadat kepada Allah selama 20 tahun sisa umurku tersebut.’ Maka ia pun beranjak turun  dengan niat demikian. Sedangkan saudaranya si fasik, baru saja tersadar dari mabuknya. Di dapati dirinya dalam keadaan sangat buruk, ia telah mengencingi pakaiannya dan tubuhnya terkapar di atas tanah dalam kegelapan. Maka berkatalah ia dalam hatinya: ‘aku telah menhabiskan umurku dalam perbuatan maksiat, sedangkan saudaraku bersenang-senang dalam perbuatan taat kepada Allah Subhaanahu wata’ala dan bermunajat kepada-Nya. Maka kelak ia akan masuk ke dalam surga dengan berkat taat kepada Tuhannya, sedangkan aku dengan perbuatan maksiat yang telah aku lakukan akan masuk ke dalam neraka.’
Kemudian ia bertekad untuk bertaubat dan berniat untuk melakukan kebaikan dan beribadah kepada Allah. Maka ia pun naik menuju tempat saudaranya untuk ibadat bersama-sama saudaranya itu. Si fasik naik dengan niat ibadat sedangkan si abid turun dengan niat maksiat.
Ketika sedang turun itu, si abid tergelincir hingga jatuh menimpa saudaranya yang sedang naik. Karena ajal sudah sampai, keduanya akhirnya meninggal dunia. Si abid kelak pada hari kiamat dibangkitkan dalam keadaan berniat melakukan maksiat, sedangkan si fasik dibangkitkan dalam keadaan berniat untuk melakukan perbuatan taat.
Karenanya, hendaklah setiap orang senantiasa berniat yang baik-baik saja.
HIKAYAT:
Pada hari kiamat kelak, seorang hamba dibawa menghadap kehadirat Allah sambil membawa amal baiknya yang banyaknya laksana sebuah gunung. Kemudian diserukan: ‘Barang siapa mempunyai hak pada si fulan maka hendaklah ia datang kepadanya dan mengambil haknya itu.’ Maka berdatanganlah orang-orang menemui si hamba tadi lalu mengambil kebaikan-kebaikannya yang seperti gunung tadi hingga habis tidak tersisa sama sekali. Orang itu menjadi kebingungan, lantas Allah Subhaanahu wata’ala berfirman kepadanya: ‘Hai hamba-Ku, engkau masih memiliki perbendaharaan di sisi-Ku yang tidak terlihat oleh seorangpun dari makhluk-Ku. Si hamba bertanya: ‘Apakah itu, wahai Tuhanku?’ Allah menjawab: ‘Niatmu yang dahulu engkau pernah berniat untuk melakukan kebaikan. Aku catatkan pahalanya di sisi-Ku tujuh puluh kali lipat.
HIKAYAT:
Pada hari kiamat kelak seorang hamba dihadapkan ke hadirat Allah, lalu diserahkan kitab amalnya, yang diambilnya dengan tangan kanannya. Si hamba tadi melihat di dalam catatan amalnya itu pahala haji, jihad dan sedekah yang belum pernah dilakukannya. Maka ia pun berkata: ‘Oh...Tuhanku, ini bukan catatan amalku, karena dahulu aku tidak pernah melakukan itu semua.’ Allah menjawab: ‘Ini adalah benar-benar catatan amalmu. Dahulu engkau hidup panjang umur, dan engkau sering berniat baik. Engkau berkata: ‘Kalau aku punya uang aku akan naik haji, kalau aku ada uang aku akan bersedekah.’ Maka Aku ketahui niatmu yang tulus itu, lalu Aku beri engkau pahala atas niat tersebut.’
Wahai saudaraku, dari kisah-kisah tadi jelas, bahwa orang yang berniat melakukan sesuatu kebaikan akan memperoleh ganjarannya. Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: ‘Niat seorang mukmin itu lebih baik daripada ‘amalnya.’ Konon, sebab disabdakan hadits tersebut adalah bahwa, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjanjikan pahala bagi orang yang mau menggali sebuah sumur. Maka Utsman radhiyallahu ‘anhu berniat akan menggalinya. Namun ia didahulukan oleh seorang kafir, orang kafir itulah yang menggalinya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Niat seorang mukmin (maksudnya Utsman) lebih baik dari pada amalnya (yakni si kafir). Dan konon, niat semata-mata dari seorang mukmin adalah lebih baik daripada amalnya yang tidak disertai niat.
Sebagian ulama mengatakan bahwa, niat seorang mukmin dapat mencapai apa yang tidak bisa dicapai oleh amalnya. Karena niatnya akan beribadat kepada Allah andaikata umurnya sampai seribu tahun, sedangkan amalnya tidak bisa mencapai umur demikian itu. Hadits ini diriwayatkan oleh At-Thabrani di dalam Al-Mu’jam.
فمن كانت هجرته الى الله ورسوله  Yaitu niat dan tujuannya.
فهجرته الى الله ورسوله Yaitu menurut hukum dan syari’atnya.
ومن كانت هجرته لدنيا  Dunia adalah tempat yang kita diami sekarang. Ia dinamakan dunia karena hinanya dan karena lebih dahulu daripada akhirat. Dunia adalah tempat kesusahan, kesedihan, kekeruhan, kepayahan, dan kelelahan.  Ia juga mengangkat derajat orang yang bodoh dan merendahkan orang yang berilmu. Seperti kata penyair:
“Aku cela dunia karena telah memuliakan orang bodoh dan merendahkan orang alim,
lalu ia menjawab ‘Maaf, orang-orang bodoh itu adalah anak-anakku maka aku muliakan mereka,
dan orang-orang taqwa itu anak-anak maduku yang lain, maka apakah pantas aku biarkan anak-anakku mati sia-sia, dan aku menyusui anak-anak maduku yang lain.”
يصيبها  yakni yang akan diperolehnya. Seluruh keinginan duniawi yang hendak diraihnya dengan hijrah tersebut.
 أوامرأة ينكحها  atau wanita yang akan dinikahinya, sebagaimana disebutkan dalam satu riwayat. Wanita khusus disebutkan di sini padahal ia sudah termasuk bagian dari dunia, karena ia merupakan fitnah yang maha besar. Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘tidaklah aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih banyak membawa bencana kepada kaum laki-laki melebihi fitnah yang datangnya dari perempuan’.
Di samping itu, ada kejadian lain, yaitu ada seorang laki-laki yang melakukan hijrah ke Madinah karena ingin menikahi Ummu Qais. Karena itulah ia disebut Muhajir Ummi Qais (orang yang hijrah karena Ummu Qais). Pada lahirnya ia tampak melakukan hijrah, tetapi pada batinnya ia berniat menikahi seorang wanita. Karena ia memendam tujuan lain yang berbeda dengan apa yang ia tampakan, maka ia pantas untuk dicela, dan dijadikan perumpamaan bagi orang yang melakukan hal yang serupa dengan apa yang dilakukan itu.
فهجرته الى ماهجر اليه  sebagai jawab dari kata man.
Hijrah adalah suatu perbuatan yang berasal dari kata hajara, yang artinya menurut bahasa adalah meninggalkan. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah meninggalkan negeri asal pindah ke negeri lain. Sebab tujuan hijrah yang mula-mula adalah hijrah dari Mekah ke Madinah.
Adakalanya hijrah diartikan meninggalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah, seperti yang disebutkan dalam hadits: ‘Mujahid (pejuang yang sebenarnya) adalah orang yang berjuang melawan hawa nafsunya, dan muhajir (orang yang berhijrah yang sebenarnya) adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah atasnya’.

PENUTUP:
Imam Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhah berkata: ’Dunia telah berada di belakang sedangkan akhirat menyongsong di hadapan, maka jadilah kalian sebagai anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena sekarang hanya ada amal dan tidak ada hisab, sedangkan esok hanya ada hisab dan tidak ada amal.’
Diriwayatkan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk-duduk di dalam masjid, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang berkulit putih, bagus rambutnya, dan berpakaian warna putih. Laki-laki itu memberi salam kepada Nabi, dan Beliau membalas salamnya. Kemudian laki-laki itu bertanya kepada Nabi tentang dunia, lalu dijawab oleh Baginda: ‘Dunia itu seperti mimpi yang dialami oleh orang yang sedang tidur, dan penghuninya akan diberi pahala atau siksa.’ Kemudian laki-laki itu bertanya pula: ‘dan apakah akhirat itu?. Nabi menjawab dengan mengutip firman Allah:
فريق في الجنة وفريق  في السعير
‘Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. QS. 42: 7
Kemudian lelaki itu bertanya pula: ‘Yaa Rasulallah, apakah yang harus dilakukan untuk memperoleh surga itu?’ Nabi menjawab: ‘Hendaklah engkau tinggalkan dunia guna memperoleh kenikmatan surga yang abadi’. Tanya: ‘siapakah yang terbaik dari umat ini?’. Jawab: ‘ialah orang yang berbuat taat kepada Allah’. Tanya: ‘bagaimana keadaan orang di dalamnya?’. Jawab: ‘Bersungguh-sungguh seperti orang yang mencari kafilah.’ Tanya: ‘Berapa yang tinggal di dalamnya?.’ Jawab: ‘seperti yang ketinggalan kafilah.’ Tanya: ‘berapa jarak antara dunia dan akhirat?.’ Jawab: ‘sekejap mata.’ Kemudian lelaki itu pergi, dan tidak ada seorangpun yang melihatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘Tadi itu adalah Jibril yang datang untuk menjadikan kalian supaya zuhud  terhadap dunia.’
Ibnu Abbas berkata: ‘Pada hari kiamat kelak, dunia akan ditampilkan dalam rupa seorang perempuan tua yang renta dan jelek, yang taring-taringnya menjulur keluar. Tidak ada yang melihatnya melainkan ia membencinya. Lalu ditanyakan kepada khalayak: ‘Tahukah kalian siapakah ini!.’ Mereka menjawab: ‘kami berlindung kepada Allah dari orang ini.’ Kemudian dijelaskan: ‘inilah dunia yang dahulu kalian bangga-banggakan dan berbunuh-bunuhan di atasnya.’
Di dalam kitab Munhiyyat disebutkan: ‘janganlah kalian mencintai dunia, karena ia bukan tempat kaum mukminin. Jangan bersahabat dengan setan, karena ia bukan teman kaum mukminin. Jangan menyakiti hati orang, karena itu bukan pekerjaan kaum mukminin. Wahai orang yang dihadapannya ada huru hara hisab dan shirat. Wahai orang yang kurang setia. Wahai orang yang banyak tipu daya dan bersuka ria. Wahai orang yang malas berbuat taat kepada Tuhannya, dan rajin mengikuti hawa nafsunya. Wahai orang yang menantang Tuhannya dengan perbuatan maksiat, engkau telah melampai batas dalam melakukan pelanggaran. Angkatlah kedua belah tanganmu bersamaku dan marilah berdo’a: ‘Ilaahi, berkat kemurahan-Mu mudahkanlah kami untuk berbuat taat kepada-Mu, dan tunjukilah kami kepada apa yang Engkau sukai dan Engkau ridhai dalam setiap waktu. Ampunilah segala dosa kami dengan berkat kemurahan-Mu wahai Tuhan yang Maha Pemurah. Bangunkanlah kami dengan berkat kedudukan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari lelapnya kelalaian. Anugerahilah kami kesadaran terhadap apa yang tersisa, dan ingatkanlah kami terhadap apa yang sudah luput. Dan selamatkanlah kami di dunia dan di akhirat dari segala bencana. Amiin...amiin...amiin. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.


WASSALAAMU’ALAIKUM WRWB
Kritik dan saran; WA  081511894045
 081511894045.blogspot.com/
KAJIAN ISLAM INAN TIHUL 081511894045.blogspot.com
https://silaturrohimilmu.blogspot.co.id/2018/01


[1]Hadits ini diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits, yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizba, Al-Bukhari; dan Abu Husein Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi Annaisburi, di dalam kitab hadits mereka yang shahih, yang keduanya merupakan kitab hadits yang paling shahih di antara seluruh kitab hadits yang pernah disusun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AWALI SEMUA DENGAN BASMALAH

ISLAM, IMAN, DAN IHSAN