ADDIINU NASHIHAH



Addiinu Nashiihah # syarah hadits al-Arba’in an-Nawawiyyah# asy-Syekh Ahmad bin Syekh al-Fasyani
Kajian Ahad Shubuh Masjid Assa’adah Pondok Safari Pondok Aren, 15 Juli 2018
Inan Tihul (081511894045)

بسم الله الرحمن الرحيم
عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْم الدَّارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ . [رواه البخاري ومسلم]
Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari radhiallahu 'anh, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim”. [Muslim no. 55]
Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, semoga Allah menunjuki kita untuk taat kepada-Nya, bahwa hadits ini merupakan hadits yang agung, yang juga menjadi prosnya agama Islam, disebabkan karena luasnya makna yang terkandung di dalamnya.

الدِّيْنُ   yakni, seperti yang disebutkan dalam hadits Jibril as, bahwa ia m mencakup tiga unsur yaitu, Islam, Iman,Ihsan. Dan sebagian ulama mengatakan bahwa, Addiin itu adalah hukum-hukum yang disyari’atkan oleh Allah buat hamba-Nya.
النَّصِيْحَةُ      ini mirip dengan perkataan ulama al-haaju ‘araafah.
قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلَّهِ          dalam arti bahwa, iman dan taat kepada Allah dengan hati, badan dan lain-lain pada hakikatnyaa adalah kembali kepada hamba itu sendiri. Karena Allah tidak membutuhkan semua itu.
وَلِكِتَابِهِ      yakni, dengan mengagungkannya, percaya kepadanya, dan mengamalkan isinya.
وَلِرَسُوْلِهِ      yakni, membenarkan apa-apa yang diajarkannya, menolongnya dalam menegakkan perintah Tuhannya, dengan ucapan, perbuatan, dan keyakinan.
وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ     yakni, para pemimpin mereka, yaitu dengan jalan mematuhi mereka, memperingatkan mereka dengan apa yang dapat bisa membuat mereka baik, serta mendo’akan mereka agar diberi taufik. Ada juga yang mengatakan bahwa maksudnya di sini adalah para ulama, yaitu dengan jalan menerima apa yang mereka riwayatkan dan mengikuti mereka dalam hukum agama, serta berbaik sangka terhadap mereka.
وَعَامَّتِهِمْ       yakni , dengan jalan menyukai buat mereka apa-apa yang ia sukai buat dirinya sendiri, dan tidak suka buat mereka apaa-apa yang ia sukai  buat dirinya sendiri, dan tidak suka buat mereka apa apa yang tidak disukainya buat dirinya sendiri.

Asnawi rahimahullah berkata di dalam kitabnya berkait dengan hadits ini: ‘jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Dia akan mengirimkan kepadanya orang yang akan mengingatkannya bila ia lalai. Dan  jika Dia menghendaki keburukan pada seorang hamba, maka Dia akan mengirimkan teman jahat yang akan melarangnya mendengarkan nasihat’.

Ketika Harun Arrasyid memegang tampuk pemerintahan, ia mengadakan sidang umum untuk orang banyak. Kemudian datang Bahlul Al-Majnun seraya berkata: wahai amirul mu’minin, hati-hati terhadap teman jahat dan bersahabatlah dengan teman yang shalih, yang akan mengingatkan tuan dengan akhlaknya yang baik  jika tuan lalai dan dengan memandang mereka jika tuan lengah. Karena itu lebih bermanfa’at bagi tuan dan orang banyak serta lebih besar ganjarannya dibandingkan dengan puasa sunnah, shalat sunnah, membaca  al-Qur’an dan haji sunnah. Karena jika seseorang menyampaikan suatu perkataan yang tidak baik kepada sultan lalu dikerjakan oleh sultan itu, maka akan meratalah kerusakan di bumi ini. Nabi shallallahu alaihi wasallama bersabda: sesungguhnya seorang laki-laki akan dijebloskan ke dalam neraka selama 70 tahun akibat perkataan yang tidak tidak berguna. dan janganlah tuan, wahai amirul mukmunin, menjadi seperti orang yang disinggung Allah dalam firman-Nya,


 




“Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS. Al-Baqarah : 206).
 terika
Bahlul menjawab: “wahai amirul mu’minin, sesungguhnya Allah subhaanahu wata’ala telah menundukan orang banyak buatmu dan menjadikan perintah  tuan harus ditaati oleh mereka, itu tidak lain agar tuan membawa mereka  kepada menta’ati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, memberikan dari harta ini kepada anak-anak yatim, janda-janda, dan orang-orang tua  yang tak berdaya serta para musafir kelana. Wahai amirul mu’minin, fulan-bin fulan  telah memberitahukan kepada saya, dari Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda, jika hari kiamat telah bangkit dan Allah mengumpulkan seluruh umat manusia  di suatu tanah lapang yang luas., maka didatangkanlah para raja dan para pemimpin orang banyak, kemudian Allah berfirman kepada mereka: “BukankahAku telah memberikan kekuasaaan  kepada kamu di negeri-Ku dan menjadikan hamba-hambaku taat kepadamu. Itu bukan supaya kamu mengumpulkan harta dan pasukan, tetapi supaya kamu mengumpulkan mereka agar taat kepada-Ku dan menerapkan pada mereka perintah dan larangan-Ku, memuliakan para wali-Ku, serta menolong orang-orang yang teraniaya dari penindasan orang-orang yang lalim.
Wahai Harun, pikirkanlah, apa jawaban yangg tuan berikan atas semua pertanyaan tentang hamba-hamba Allah yang akan diajukan kepada tuan kelak di tempat tersebut, pada saat tuan dihadirkan dalam keadaan kedua tangan tuan terikat dengan rantai di leher tuan, neraka jahannam ada di depan tuan, dan malaikat Zabaniah mengelilingi tuan, sambil menunggu apa yang akan diperintahkan terhadap tuan?”

Harun pun menangis dengan terisak-isak. Sebagian orang yang hadir berkata kepada Bahlul: “ Anda telah merusak suasana sidang ini”. Lalu Harun berkata kepada mereka : “Celaka kalian, orang yang tertipu ialah orang yang kalian tipu, dan orang yang beruntung ialah orang yang jauh dari kalian.”

Kemudian Bahlul pergi meninggalkan tempat tersebut. Perhatikan saudara, betapa agungnya nasihat ini.

Dahulu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sering memberikan wasiat dan nasihat kepada para sahabat Beliau yang bermanfa’at buat mereka dan buat orang-orang sesudah mereka. Di antara nasihat-nasihat Beliau adalah seperti yang diriwayatkan oleh sahabat Annas radhiyallahu ‘anhu, katanya Rasulullah telah memberikan wasiat kepadaku, Baginda bersabda kepada-ku, “Sempurnakanlah wudu maka itu akan menambah umurmu; berilah salam kepada orang yang engkau jumpai maka akan menjadi banyaklah kebaikanmu, jika engkau masuk ke rumahmu ucapkanlah salam kepada keluargamu, maka akan menjadi banyaklah kebaikan rumahmu. Kerjakanlah shalat dhuha karena ia merupakan shalat orang-orang yang awwab sebelummu, serta sayangi orang yang lebih muda dan hormati orang yang lerang yang lebih tua maka engkau akan menjadi temanku di hari kiamat kelak.”

Di antara nasihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada sebagian keluarga Beliau: “Janganlah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun sekalipun engkau dipotong atau dicincang, dan janganlah meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja, sebab orang yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja itu terlepas dari jaminan Allah subhaanahu wata’ala, serta jauhilah maksiat, sebab maksiat itu mendatangkan murka Allah.”
Wasiat dan nasihat Rasulullah tak terhingga banyaknya.

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada sebagian saudaranya: ‘aku  wasiatkan engkau 6 perkara: (1) jika engkau ingin mencela seseorang, maka celalah dirimu lebih dahulu, karena engkau tidak tahu orang yang lebih banyak aibnya darinya, (2) jika engkau hendak memusuhi seseorang maka musuhilah perutmu, karena tidak ada musuh yang lebih besar bagimu darinya, (3) jika engkau hendak memuji seseorang maka pujilah Allah lebih dahulu, karena tidak ada yang lebih banyak karunia dan kelembutanya kepadamu melebihi DIA, (4) jika engkau hendak meninggalkan sesuatu maka tinggalkanlah dunia, karena jika engkau meninggalkannya maka engkau akan terpuji, kalau tidak engkau akan ditinggalkannya sedang engau tercela, (5) jika engkau hendak bersiap-siap untuk sesuatu maka bersiap-siaplah untuk mati, karena jika engkau tidak bersiap-siap untuknya maka engkau merugi dan menyesal, (6) jika engkau hendak menuntut sesuatu maka tuntutlah akhiratmu,karena engkau tidak akan mendapatkannya kecuali jika engkau menuntutnya.

Wallahu ‘alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEUTAMAAN NIAT

AWALI SEMUA DENGAN BASMALAH

ISLAM, IMAN, DAN IHSAN